ber-WIRID TANPA GURU/MURSYID ?!
Membaca/mangamalkan wirid dengan niat ibadah tentu baik atau tidak tercela. Tapi afdhal-nya kita harus berjalan dalam aturan petunjuk yang baik berdasarkan pelajaran yang diterima.
Pelajaran itu, tentu diterima dari guru sesuai petunjuknya. Sebagaimana obat diterima sesuai petunjuk/resep dokter.
Karena sesuatu yang tidak tepat dari yang sebenarnya, sama artinya membeli obat tanpa resep. Kita tahu khasiat obat-obatan tapi tidak mengetahui seberapa besar dosisnya.
Buku ibarat obat. Wirid yang dibaca sendiri melalui buku tetap baik, namun tanpa tuntunan guru bagai obat diramu sendiri, tanpa resep dokter bisa jadi bahaya.
Wirid yang diamalkan melalui bacaan buku semata baru pada tataran teori, belum pada praktik wirid. Buku tidak mampu menceritakan khasiat obat/wirid tersebut. Tapi seorang dokter/guru mampu untuk itu.
Dokter pun beri resep tentang obat-obatan 3x1 misalnya. Guru/mursyid pun demikian memberi tuntunan wirid sekian kali dibaca wirid tersebut lengkap dengan tatacaranya agar benar-benar berkhasiat.
ed dialog fb
by mahmud suyuti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar